Salah satu faktor penting yang membedakan antara Revolusi Islam Iran
dengan revolusi-revolusi besar dunia lainnya adalah peran aktif semua
lapisan masyarakat di bawah payung pemimpin agama. Revolusi besar dunia
sebelum tahun 1979 tidak pernah memasukkan pemimpin agama sebagai
variabel penting dalam kemenangan revolusi. Sementara di Iran, revolusi
Islam selain didukung penuh seluruh lapisan masyarakat, juga tidak bisa
dilepaskan dari peran ulama dan pemimpin agama seperti Imam Khomeini.
Imam Khomeini mampu mewujudkan persatuan nasional di Iran yang kokoh
dan berpijak dari spirit kebangsaan dan keagamaan mereka. Ulama besar
ini memimpin perlawanan rakyat selama bertahun-tahun menghadapi rezim
monarki Pahlevi. Dukungan penuh Imam Khomeini terhadap perjuangan rakyat
Iran dan pembelaan serta penghormatan rakyat terhadap pemimpin agama
itu membuahkan kemenangan revolusi Islam.
Imam
Khomeini sendiri memandang revolusi berasal dari rakyat dan milik
rakyat. Sebelum dan sesudah meletusnya revolusi Islam, Imam Khomeini
senantiasa menegaskan peran besar rakyat dalam revolusi. Saking
pentingnya posisi rakyat, Imam Khomeini menegaskan bahwa pejabat dan
pegawai negeri harus berkhidmat kepada rakyat, sebab mereka adalah para
pelayan rakyat.
Di bawah kepemimpinan ulama semacam
Imam Khomeini, revolusi Islam membuktikan kepada dunia bahwa agama
menjadi kekuatan utama menghancurkan rezim despotik, sekaligus perekat
elemen bangsa mencapai kemajuan dan kemenangan. Terkait kepemimpinan
Imam Khomeini dalam revolusi Islam, Ayatullah Khamenei mengatakan,
"Tanpa nama Khomeini, Revolusi Islam tidak dikenal di dunia." Di sini,
Imam Khomeini memimpin revolusi dari posisinya sebagai marja atau
pemimpin agama. Masyarakat Iran pun menyambut seruannya melawan
ketidakadilan, kerusakan moral, dan pesan al-Quran dan Rasulullah Saw
yang disampaikan marja syiah ini.
Imam Khomeini
membangun fondasi revolusi dari hauzah ilmiah dengan mengajarkan
nilai-nilai agama. Beliau dalam berbagai pidatonya menjelaskan peran
Islam dalam masyarakat. Rekaman pidatonya dalam bentuk kaset dan pamflet
disebarkan ke seluruh penjuru Iran melalui masjid dan huseiniyah.
Hubungan tersebut melahirkan ikatan erat antara pemimpin agama dan
masyarakat Iran.
Perjuangan bangsa Iran selama sekitar
empat belas tahun membuahkan hasil. Rakyat Iran mengusung foto Imam
Khomeini di kota dan desa serta menyimpan pamflet pernyataan ulama besar
Iran ini. Rakyat Iran menyambut seruan Imam Khomeini dengan berunjuk
rasa menentang rezim despotik Pahlevi hingga mencapai kemenangan.
mengenai peran besar Imam Khomeini dalam Revolusi Islam Iran, Udo
Steinbach direktur GIGA Institute of Middle East Studies (IMES) Jerman
mengatakan, "Imam Khomeini pemimpin spiritual dunia paling politis dan
tokoh paling kharismatik. Seluruh cita-cita Republik Islam berakar dari
pemikirannya."
Ayatullah Muthahhari dalam bukunya
"Diskursus Revolusi Islam" mengungkapkan pandangannya penting tentang
Imam Khomeini, "Saya melihat tiga point dalam diri Imam Khomeini yang
membuat saya mempercayainya. Pertama, keyakinan terhadap tujuan.
Maksudnya, jika seluruh penghuni dunia berkumpul tidak akan bisa
menghalangi beliau mewujudkan tujuannya. Kedua, keyakinan terhadap
mental rakyat. Ketiga yang lebih penting adalah keyakinan dan tawakal
kepada Allah swt."
Menurut Mutahhari, dengan ketiga
karakteristik itu, Imam Khomeini mampu memainkan peran penting ulama
sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin politik. Peran yang sama juga
pernah dimainkan oleh Sayid Jamaluddin Assad Abadi, Sayid Qutb, Hassan
al-Bana dan tokoh-tokoh besar Islam lainnya yang membangkitkan umat
Islam dari tidur panjang. Berbeda dengan tokoh-tokoh tersebut, gerakan
yang dipimpin Imam Khomeini menorehkan sejarah baru dengan
kecemerlangannya bukan hanya sebagai reformis muslim, tapi beliau tampil
menjadi ikon dunia Islam.
Terkait peran kunci Imam
Khomeini dalam kebangkitan Islam, Profesor Hamid Maulana mengatakan,"Di
dunia Barat selama beberapa abad dan dunia Islam pasca lahirnya Islam
jarang ditemui tokoh Islam seperti Imam Khomeini. Pemikiran, gerakan,
bimbingan dan kinerjanya mendunia. Imam Khomeini dengan karakteristiknya
memberikan pencerahan. Ia tidak takut terhadap kekuatan apapun. Meski
demikian, dengan kehidupannya yang sangat sederhana, bertakwa dan
bermoral, beliau mengubah makna kekuasaan di tingkat dunia. Pengakuan
dan penerimaan terhadap Imam Khomeini mendunia."
Mengenai kepemimpinan Imam Khomeini, Ayatullah Sayid Ali Khamenei
menuturkan, "Beliau adalah model yang sempurna sebagai seorang muslim.
Ia adalah contoh nyata seorang pemimpin Islam. Imam Khomeini menjadi
kebanggaan Islam. Ia mengibarkan bendera al-Quran di dunia. Di zaman
ketika seluruh kekuatan politik berupaya untuk mengucilkan agama dan
spiritualitas serta nilai-nilai moral, Imam Khomeini tampil mendirikan
sebuah pemerintahan yang berpijak pada agama dan spiritualitas serta
nilai-nilai moral. Beliau mendirikan Republik Islam Iran. Ia menjaga,
membimbing dan mengarahkan Republik Islam selama sepuluh tahun di tengah
terpaan badai berat dan berbagai peristiwa yang sangat menentukan. Bagi
rakyat dan pejabat Iran, selama sepuluh tahun kepemimpinannya menjadi
warisan yang sangat berharga dan akan selalu dikenang sepanjang masa."
Di dunia modern yang mengukur segala seuatu dari parameter Materialisme
yang memarjinalkan agama serta spiritualitas, Republik Islam Iran hadir
menawarkan sistem alternatif yang berpijak pada peran agama dan
spiritualitas dalam berbangsa dan bernegara. Revolusi Islam Iran
membuktikan kemampuan dan peran agama dan membangun sebuah masyarakat
dan negara yang mengusung keadilan dan spiritualitas. Seorang filsuf
Spanyol pernah menuturkan, "Kini agama hidup kembali. Keindahan
spiritual dalam kehidupan sehari-hari menjadi perhatian. Kini dunia
memiliki kecenderungan terhadap kekuatan agama dan daya tarik
spiritualitas untuk menyelamatkan dan memperindah hubungan sosial
manusianya. Semua itu seruan Imam Khomeini kepada masyarakat dunia yang
dimulai dengan revolusi agama yang diusungnya."
Imam Khomeini memiliki tujuan dan agenda penting pasca kemenangan
Revolusi Islam. Berbeda dengan Sekularisme yang memarjinalkan agama
hanya di ranah privat, Imam Khomeini berkeyakinan bahwa Islam memiliki
program bagaimana mengelola sebuah masyarakat dan negara, sebagaimana
juga mengatur urusan individu yang paling khusus sekalipun.
(IRIBIndonesia/PH)



