Wednesday, December 4, 2013

Republik Islam Iran: Sistem Islami dan Demokratis (3)

Salah satu faktor penting yang membedakan antara Revolusi Islam Iran dengan revolusi-revolusi besar dunia lainnya adalah peran aktif semua lapisan masyarakat di bawah payung pemimpin agama. Revolusi besar dunia sebelum tahun 1979 tidak pernah memasukkan pemimpin agama sebagai variabel penting dalam kemenangan revolusi. Sementara di Iran, revolusi Islam selain didukung penuh seluruh lapisan masyarakat, juga tidak bisa dilepaskan dari peran ulama dan pemimpin agama seperti Imam Khomeini.

Imam Khomeini mampu mewujudkan persatuan nasional di Iran yang kokoh dan berpijak dari spirit kebangsaan dan keagamaan mereka. Ulama besar ini memimpin perlawanan rakyat selama bertahun-tahun menghadapi rezim monarki Pahlevi. Dukungan penuh Imam Khomeini terhadap perjuangan rakyat Iran dan pembelaan serta penghormatan rakyat terhadap pemimpin agama itu membuahkan kemenangan revolusi Islam.

Imam Khomeini sendiri memandang revolusi berasal dari rakyat dan milik rakyat. Sebelum dan sesudah meletusnya revolusi Islam, Imam Khomeini senantiasa menegaskan peran besar rakyat dalam revolusi. Saking pentingnya posisi rakyat, Imam Khomeini menegaskan bahwa pejabat dan pegawai negeri harus berkhidmat kepada rakyat, sebab mereka adalah para pelayan rakyat.

Di bawah kepemimpinan ulama semacam Imam Khomeini, revolusi Islam membuktikan kepada dunia bahwa agama menjadi kekuatan utama menghancurkan rezim despotik, sekaligus perekat elemen bangsa mencapai kemajuan dan kemenangan. Terkait kepemimpinan Imam Khomeini dalam revolusi Islam, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Tanpa nama Khomeini, Revolusi Islam tidak dikenal di dunia." Di sini, Imam Khomeini memimpin revolusi dari posisinya sebagai marja atau pemimpin agama. Masyarakat Iran pun menyambut seruannya melawan ketidakadilan, kerusakan moral, dan pesan al-Quran dan Rasulullah Saw yang disampaikan marja syiah ini.

Imam Khomeini membangun fondasi revolusi dari hauzah ilmiah dengan mengajarkan nilai-nilai agama. Beliau dalam berbagai pidatonya menjelaskan peran Islam dalam masyarakat. Rekaman pidatonya dalam bentuk kaset dan pamflet disebarkan ke seluruh penjuru Iran melalui masjid dan huseiniyah. Hubungan tersebut melahirkan ikatan erat antara pemimpin agama dan masyarakat Iran.

Perjuangan bangsa Iran selama sekitar empat belas tahun membuahkan hasil. Rakyat Iran mengusung foto Imam Khomeini di kota dan desa serta menyimpan pamflet pernyataan ulama besar Iran ini. Rakyat Iran menyambut seruan Imam Khomeini dengan berunjuk rasa menentang rezim despotik Pahlevi hingga mencapai kemenangan. mengenai peran besar Imam Khomeini dalam Revolusi Islam Iran, Udo Steinbach direktur GIGA Institute of Middle East Studies (IMES) Jerman mengatakan, "Imam Khomeini pemimpin spiritual dunia paling politis dan tokoh paling kharismatik. Seluruh cita-cita Republik Islam berakar dari pemikirannya."

Ayatullah Muthahhari dalam bukunya "Diskursus Revolusi Islam" mengungkapkan pandangannya penting tentang Imam Khomeini, "Saya melihat tiga point dalam diri Imam Khomeini yang membuat saya mempercayainya. Pertama, keyakinan terhadap tujuan. Maksudnya, jika seluruh penghuni dunia berkumpul tidak akan bisa menghalangi beliau mewujudkan tujuannya. Kedua, keyakinan terhadap mental rakyat. Ketiga yang lebih penting adalah keyakinan dan tawakal kepada Allah swt."

Menurut Mutahhari, dengan ketiga karakteristik itu, Imam Khomeini mampu memainkan peran penting ulama sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin politik. Peran yang sama juga pernah dimainkan oleh Sayid Jamaluddin Assad Abadi, Sayid Qutb, Hassan al-Bana dan tokoh-tokoh besar Islam lainnya yang membangkitkan umat Islam dari tidur panjang. Berbeda dengan tokoh-tokoh tersebut, gerakan yang dipimpin Imam Khomeini menorehkan sejarah baru dengan kecemerlangannya bukan hanya sebagai reformis muslim, tapi beliau tampil menjadi ikon dunia Islam.

Terkait peran kunci Imam Khomeini dalam kebangkitan Islam, Profesor Hamid Maulana mengatakan,"Di dunia Barat selama beberapa abad dan dunia Islam pasca lahirnya Islam jarang ditemui tokoh Islam seperti Imam Khomeini. Pemikiran, gerakan, bimbingan dan kinerjanya mendunia. Imam Khomeini dengan karakteristiknya memberikan pencerahan. Ia tidak takut terhadap kekuatan apapun. Meski demikian, dengan kehidupannya yang sangat sederhana, bertakwa dan bermoral, beliau mengubah makna kekuasaan di tingkat dunia. Pengakuan dan penerimaan terhadap Imam Khomeini mendunia."

Mengenai kepemimpinan Imam Khomeini, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menuturkan, "Beliau adalah model yang sempurna sebagai seorang muslim. Ia adalah contoh nyata seorang pemimpin Islam. Imam Khomeini menjadi kebanggaan Islam. Ia mengibarkan bendera al-Quran di dunia. Di zaman ketika seluruh kekuatan politik berupaya untuk mengucilkan agama dan spiritualitas serta nilai-nilai moral, Imam Khomeini tampil mendirikan sebuah pemerintahan yang berpijak pada agama dan spiritualitas serta nilai-nilai moral. Beliau mendirikan Republik Islam Iran. Ia menjaga, membimbing dan mengarahkan Republik Islam selama sepuluh tahun di tengah terpaan badai berat dan berbagai peristiwa yang sangat menentukan. Bagi rakyat dan pejabat Iran, selama sepuluh tahun kepemimpinannya menjadi warisan yang sangat berharga dan akan selalu dikenang sepanjang masa."

Di dunia modern yang mengukur segala seuatu dari parameter Materialisme yang memarjinalkan agama serta spiritualitas, Republik Islam Iran hadir menawarkan sistem alternatif yang berpijak pada peran agama dan spiritualitas dalam berbangsa dan bernegara. Revolusi Islam Iran membuktikan kemampuan dan peran agama dan membangun sebuah masyarakat dan negara yang mengusung keadilan dan spiritualitas. Seorang filsuf Spanyol pernah menuturkan, "Kini agama hidup kembali. Keindahan spiritual dalam kehidupan sehari-hari menjadi perhatian. Kini dunia memiliki kecenderungan terhadap kekuatan agama dan daya tarik spiritualitas untuk menyelamatkan dan memperindah hubungan sosial manusianya. Semua itu seruan Imam Khomeini kepada masyarakat dunia yang dimulai dengan revolusi agama yang diusungnya."  

Imam Khomeini memiliki tujuan dan agenda penting pasca kemenangan Revolusi Islam. Berbeda dengan Sekularisme yang memarjinalkan agama hanya di ranah privat, Imam Khomeini berkeyakinan bahwa Islam memiliki program bagaimana mengelola sebuah masyarakat dan negara, sebagaimana juga mengatur urusan individu yang paling khusus sekalipun. (IRIBIndonesia/PH)