Wednesday, December 4, 2013

Republik Islam Iran: Sistem Islami dan Demokratis (2)

Berbagai pandangan tentang revolusi Islam Iran disampaikan para pemikir dunia. Sejumlah kalangan menilai revolusi Iran dipicu oleh motif ekonomi. Tapi ada juga kalangan yang menilai motif pemicu revolusi adalah faktor politik. Namun tidak sedikit yang membantah kedua pandangan tersebut dan menilai faktor pemicu revolusi Iran adalah ideologi. Di luar ketiga pandangan tersebut, Muthahhari mengemukakan pandangan lain tentang revolusi Islam Iran dengan karakteristiknya yang berbeda dengan revolusi-revolusi besar dunia lainnya. 

Shahid Mutahhari mengatakan, "Revolusi Iran diakui banyak kalangan sebagai sebuah revolusi khusus. Sebuah revolusi yang sulit ditemukan bandingannya di dunia. Bagi saya inilah revolusi Islam. Maksud Islam di sini bukan hanya berkaitan dengan spiritualitas yang terdapat dalam agama-agama secara umum, termasuk Islam. Maksud Islami juga bukan berarti tumbuhnya ibadah dan kebebasan untuk menjalankan ibadah. Rahasia dari keberhasilan gerakan revolusi Islam bukan hanya bersandar pada faktor spiritualitas, tapi ada dua faktor lainnya yaitu material dan politik dengan sentuhan Islamisasi isinya."

Di sini, pemikir Iran kontemporer ini menyebutkan sejumlah contoh mengenai makna islamisasi dalam esensi revolusi Islam sebagai karakteristik khusus dari revolusi Iran. Muthahhari mengungkapkan peran spiritualitas dalam perjuangan sekaligus menekankan spirit kebebasan yang juga terdapat dalam ajaran Islam. Pemikir terkemuka Iran ini menyinggung perjuangan kaum ulama melawan rezim despotik Shah Pahlevi dengan kekuatan spiritualitas dan perjuangan menuntut kebebasan sebagai hak yang telah dirampas penguasa.

Bagi Mutahhari, ulama pejuang yang memperkenalkan Islam sebagai agama yang menyerukan keadilan dan menentang diskriminasi serta kesenjangan kelas mampu menyuarakan tuntutan ekonomi dan politik rakyat dengan nafas Islam. Pandangan ini sekaligus jawaban terhadap berbagai teori pemikir yang menilai revolusi Iran bukan digerakkan oleh kekuatan Islam yang dianut mayoritas rakyat Iran.

Sejatinya, sejak awal gerakan rakyat Iran tidak bisa dipisahkan dari gerakan Islam dan peran ulamanya. Meskipun di Iran ada gerakan Komunis dan Sosialis serta kubu Liberal dan kaum elektik, tapi mereka tidak memiliki dukungan yang mengakar di tengah masyarakat. Sebab menurut Muthahhari, dalam revolusi Islam bukan hanya satu kubu atau kelas tertentu saja yang terlibat. Tapi semua lapisan masyarakat dari kaum buruh, pedagang, petani, intelektual, mahasiswa, hingga pelajar, dari yang kaya hingga orang miskin, semua memiliki peran dalam gerakan revolusi Islam. Gerakan itu timbul dari spirit keagamaan yang telah tertanam kuat di tengah masyarakat Iran yang mayoritas muslim. Inilah alasan lain mengapa revolusi Iran disebut sebagai revolusi Islam.

Fenomena Revolusi Islam Iran telah mematahkan sejumlah grand theory di ranah ilmu sosial dan politik tentang teori revolusi-revolusi dunia. Teori revolusi Marxis dalam tanda tanya besar ketika revolusi Islam meletus. Karena tahap-tahap revolusi yang disebutkan dalam teori revolusi Marxis ternyata tidak terjadi dalam revolusi Islam Iran.

Selain itu, revolusi Islam juga menjungkirbalikan tesis besar Marxisme, "Agama sebagai candu yang memabukkan". Revolusi Iran justru tampil menunjukkan pandangan  tersebut dengan menegaskan bahwa agama menjadi spirit perlawanan menghadapi rezim despotik. Revolusi Islam Iran juga membuktikan bahwa agama Islam bukan penghalang bagi kebebasan dan kemajuan bangsa, tapi lebih dari itu menjadi penggerak bangsa-bangsa Muslim untuk bangkit menuntut keadilan menghadapi kekuatan lalim.

Pengakuan tentang revisi terhadap teori revolusi Marxis setelah membandingkan dengan revolusi Islam datang dari seorang pemikir Marxisme AS, Theda Skocpol. Ia menegaskan peran revolusi sosial setelah melakukan penelitian berkaitan dengan revolusi Islam Iran. Skocpol menilai sebuah revolusi politik maupun perubahan rezim tidak memainkan peran penting tanpa dikuti oleh perubahan dalam struktur sosial dan pertentangan kelas di dalamnya. Skocpol dalam bukunya "States and Social Revolutions (1979)" menunjukkan peran penting revolusi sosial sebagaimana yang terjadi di Iran. Menurut sosiolog terkemuka ini, revolusi sosial adalah perubahan mendasar dan cepat dalam sebuah negara maupun struktur sosial kelas sebuah masyarakat.

Skocpol meyakini perlawanan kelas terjadi dari bawah. Revolusi tersebut terjadi dalam kondisi sosial khusus di dalam negeri maupun transformasi kondisi regional dan internasional. Misalnya tekanan internasional ataupun kegagalan negara dalam perang. Tapi ada yang luput diamati oleh Skocpol tentang Iran. Akademisi AS itu gagal menangkap spirit Islam dalam gerakan revolusi Iran. Revolusi Islam Iran bukan terjadi akibat pertentangan antarkelas dalam masyarakat. Tapi spirit yang besar dari kekuatan pemikiran dan budaya Islam. Selain itu, menjelang kemenangan revolusi Islam Iran, situasi dan kondisi dunia tidak berpihak pada revolusi Islam Iran, bahkan sebaliknya.

Revolusi Islam Iran memporak-porandakan hubungan kekuasaan yang dibangun di era sebelumnya yang telah berurat dan berakar. Selain itu, revolusi Islam juga mengubah struktur sosial dalam masyarakat, bahkan mampu mengubah perimbangan kekuatan dalam skala internasional.

Para pemikir yang mengkaji revolusi Islam Iran dari perspektif sistem ekonomi global menunjukkan empat faktor penting dalam revolusi tersebut yaitu: budaya, ideologi, kepemimpinan dan agama. Pasca kemenangan revolusi Islam Iran, teori Wilayah al-Faqih memasuki ranah pemikiran politik kontemporer dan kini begitu banyak riset dan teori membahas masalah tersebut. Revolusi Islam Iran juga menawarkan model baru sistem pemerintahan alternatif di tengah dominasi Sekularisme Barat yang menghilangkan peran agama di ranah politik.

Di bawah kepemimpinan ulama semacam Imam Khomeini, revolusi Islam membuktikan kepada dunia bahwa agama menjadi kekuatan utama menghancurkan rezim despotik, sekaligus perekat elemen bangsa mencapai kemajuan. Dengan kembali pada hakikat fitri yang telah dilupakan, spirit agama tampil memberikan warna dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat. Revolusi Islam tidak hanya mengubah sistem politik dan ekonomi Iran, tapi juga mengubah kualitas hidup masyarakat menuju kemajuan dari sisi material dan spiritualitas. Di level internasional, revolusi Islam Iran dewasa ini menjadi kekuatan pengimbang menghadapi hegemoni negara arogan dunia. (IRIBIndonesia)