Berbagai pandangan tentang revolusi Islam Iran disampaikan para
pemikir dunia. Sejumlah kalangan menilai revolusi Iran dipicu oleh motif
ekonomi. Tapi ada juga kalangan yang menilai motif pemicu revolusi
adalah faktor politik. Namun tidak sedikit yang membantah kedua
pandangan tersebut dan menilai faktor pemicu revolusi Iran adalah
ideologi. Di luar ketiga pandangan tersebut, Muthahhari mengemukakan
pandangan lain tentang revolusi Islam Iran dengan karakteristiknya yang
berbeda dengan revolusi-revolusi besar dunia lainnya.
Shahid Mutahhari mengatakan, "Revolusi Iran diakui banyak kalangan
sebagai sebuah revolusi khusus. Sebuah revolusi yang sulit ditemukan
bandingannya di dunia. Bagi saya inilah revolusi Islam. Maksud Islam di
sini bukan hanya berkaitan dengan spiritualitas yang terdapat dalam
agama-agama secara umum, termasuk Islam. Maksud Islami juga bukan
berarti tumbuhnya ibadah dan kebebasan untuk menjalankan ibadah. Rahasia
dari keberhasilan gerakan revolusi Islam bukan hanya bersandar pada
faktor spiritualitas, tapi ada dua faktor lainnya yaitu material dan
politik dengan sentuhan Islamisasi isinya."
Di sini,
pemikir Iran kontemporer ini menyebutkan sejumlah contoh mengenai makna
islamisasi dalam esensi revolusi Islam sebagai karakteristik khusus dari
revolusi Iran. Muthahhari mengungkapkan peran spiritualitas dalam
perjuangan sekaligus menekankan spirit kebebasan yang juga terdapat
dalam ajaran Islam. Pemikir terkemuka Iran ini menyinggung perjuangan
kaum ulama melawan rezim despotik Shah Pahlevi dengan kekuatan
spiritualitas dan perjuangan menuntut kebebasan sebagai hak yang telah
dirampas penguasa.
Bagi Mutahhari, ulama pejuang yang
memperkenalkan Islam sebagai agama yang menyerukan keadilan dan
menentang diskriminasi serta kesenjangan kelas mampu menyuarakan
tuntutan ekonomi dan politik rakyat dengan nafas Islam. Pandangan ini
sekaligus jawaban terhadap berbagai teori pemikir yang menilai revolusi
Iran bukan digerakkan oleh kekuatan Islam yang dianut mayoritas rakyat
Iran.
Sejatinya, sejak awal gerakan rakyat Iran tidak
bisa dipisahkan dari gerakan Islam dan peran ulamanya. Meskipun di Iran
ada gerakan Komunis dan Sosialis serta kubu Liberal dan kaum elektik,
tapi mereka tidak memiliki dukungan yang mengakar di tengah masyarakat.
Sebab menurut Muthahhari, dalam revolusi Islam bukan hanya satu kubu
atau kelas tertentu saja yang terlibat. Tapi semua lapisan masyarakat
dari kaum buruh, pedagang, petani, intelektual, mahasiswa, hingga
pelajar, dari yang kaya hingga orang miskin, semua memiliki peran dalam
gerakan revolusi Islam. Gerakan itu timbul dari spirit keagamaan yang
telah tertanam kuat di tengah masyarakat Iran yang mayoritas muslim.
Inilah alasan lain mengapa revolusi Iran disebut sebagai revolusi Islam.
Fenomena Revolusi Islam Iran telah mematahkan sejumlah grand theory di
ranah ilmu sosial dan politik tentang teori revolusi-revolusi dunia.
Teori revolusi Marxis dalam tanda tanya besar ketika revolusi Islam
meletus. Karena tahap-tahap revolusi yang disebutkan dalam teori
revolusi Marxis ternyata tidak terjadi dalam revolusi Islam Iran.
Selain itu, revolusi Islam juga menjungkirbalikan tesis besar Marxisme,
"Agama sebagai candu yang memabukkan". Revolusi Iran justru tampil
menunjukkan pandangan tersebut dengan menegaskan bahwa agama menjadi
spirit perlawanan menghadapi rezim despotik. Revolusi Islam Iran juga
membuktikan bahwa agama Islam bukan penghalang bagi kebebasan dan
kemajuan bangsa, tapi lebih dari itu menjadi penggerak bangsa-bangsa
Muslim untuk bangkit menuntut keadilan menghadapi kekuatan lalim.
Pengakuan tentang revisi terhadap teori revolusi Marxis setelah
membandingkan dengan revolusi Islam datang dari seorang pemikir Marxisme
AS, Theda Skocpol. Ia menegaskan peran revolusi sosial setelah
melakukan penelitian berkaitan dengan revolusi Islam Iran. Skocpol
menilai sebuah revolusi politik maupun perubahan rezim tidak memainkan
peran penting tanpa dikuti oleh perubahan dalam struktur sosial dan
pertentangan kelas di dalamnya. Skocpol dalam bukunya "States and Social
Revolutions (1979)" menunjukkan peran penting revolusi sosial
sebagaimana yang terjadi di Iran. Menurut sosiolog terkemuka ini,
revolusi sosial adalah perubahan mendasar dan cepat dalam sebuah negara
maupun struktur sosial kelas sebuah masyarakat.
Skocpol meyakini perlawanan kelas terjadi dari bawah. Revolusi tersebut
terjadi dalam kondisi sosial khusus di dalam negeri maupun transformasi
kondisi regional dan internasional. Misalnya tekanan internasional
ataupun kegagalan negara dalam perang. Tapi ada yang luput diamati oleh
Skocpol tentang Iran. Akademisi AS itu gagal menangkap spirit Islam
dalam gerakan revolusi Iran. Revolusi Islam Iran bukan terjadi akibat
pertentangan antarkelas dalam masyarakat. Tapi spirit yang besar dari
kekuatan pemikiran dan budaya Islam. Selain itu, menjelang kemenangan
revolusi Islam Iran, situasi dan kondisi dunia tidak berpihak pada
revolusi Islam Iran, bahkan sebaliknya.
Revolusi Islam
Iran memporak-porandakan hubungan kekuasaan yang dibangun di era
sebelumnya yang telah berurat dan berakar. Selain itu, revolusi Islam
juga mengubah struktur sosial dalam masyarakat, bahkan mampu mengubah
perimbangan kekuatan dalam skala internasional.
Para
pemikir yang mengkaji revolusi Islam Iran dari perspektif sistem ekonomi
global menunjukkan empat faktor penting dalam revolusi tersebut yaitu:
budaya, ideologi, kepemimpinan dan agama. Pasca kemenangan revolusi
Islam Iran, teori Wilayah al-Faqih memasuki ranah pemikiran politik
kontemporer dan kini begitu banyak riset dan teori membahas masalah
tersebut. Revolusi Islam Iran juga menawarkan model baru sistem
pemerintahan alternatif di tengah dominasi Sekularisme Barat yang
menghilangkan peran agama di ranah politik.
Di bawah
kepemimpinan ulama semacam Imam Khomeini, revolusi Islam membuktikan
kepada dunia bahwa agama menjadi kekuatan utama menghancurkan rezim
despotik, sekaligus perekat elemen bangsa mencapai kemajuan. Dengan
kembali pada hakikat fitri yang telah dilupakan, spirit agama tampil
memberikan warna dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat. Revolusi
Islam tidak hanya mengubah sistem politik dan ekonomi Iran, tapi juga
mengubah kualitas hidup masyarakat menuju kemajuan dari sisi material
dan spiritualitas. Di level internasional, revolusi Islam Iran dewasa
ini menjadi kekuatan pengimbang menghadapi hegemoni negara arogan dunia.
(IRIBIndonesia)



